Cirebon, 4 Januari 2026 – Suasana khidmat menyelimuti Masjid Amaliyah Pondok Pesantren Manbaul Ulum Cirebon pada waktu Ba’da Maghrib Ahad, 4 Januari 2026. Ratusan santri berkumpul untuk menyimak amanat penting dalam agenda Tajdidun Niat (Pembaruan Niat) yang disampaikan langsung oleh Pengasuh dan Pimpinan Pondok. Agenda ini menjadi momentum krusial bagi seluruh civitas akademika pesantren untuk kembali menguatkan identitas santri, khususnya dalam penguasaan Bahasa Arab dan Bahasa Inggris yang dijuluki sebagai “Mahkota Pondok”.
Pentingnya Menjaga Mahkota Pondok
Acara diawali dengan tausiyah mendalam oleh Pengasuh Pondok Pesantren Manbaul Ulum Cirebon, KH. Mahfudz Hudlori, M.H.I. Dalam penyampaiannya, beliau menekankan filosofi mendasar tentang bahasa di lingkungan pesantren. Beliau menyebutkan bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan identitas dan kebanggaan seorang santri.
“Bahasa adalah Mahkota Pondok. Jika mahkotanya bersinar, maka pondok akan terlihat indah dan berwibawa. Namun, jika bahasanya redup, maka hilanglah salah satu ciri khas keunggulan kita. Maka dari itu, aktif berbahasa Arab dan Inggris adalah harga mati untuk menjaga kehormatan ilmu,” tegas KH. Mahfudz Hudlori di hadapan para santri.
Beliau juga mengingatkan bahwa kunci memahami Turots (kitab kuning) adalah Bahasa Arab, sedangkan kunci menggenggam dunia dan teknologi adalah Bahasa Inggris. Kombinasi keduanya adalah visi besar Manbaul Ulum untuk mencetak ulama yang intelek.


Sinergi Niat dan Disiplin
Senada dengan Pengasuh, Pimpinan Pondok Pesantren Manbaul Ulum Cirebon, KH. Jufriyadi Rifa’i, S.Sos.I, turut memberikan penguatan mental. Beliau menyoroti aspek Tajdidun Niat sebagai langkah awal perubahan. Menurut beliau, segala bentuk kedisiplinan bahasa harus dimulai dari hati yang ikhlas dan tekad yang kuat, bukan sekadar takut karena hukuman.
“Kita berkumpul di Masjid Amaliyah ini untuk menata hati. Luruskan niat kalian belajar bahasa karena Allah SWT. Gunakan bahasa resmi pondok dalam percakapan sehari-hari, baik di asrama, sekolah, maupun saat berinteraksi dengan teman,” ujar KH. Jufriyadi Rifa’i.
Beliau menambahkan strategi konkret agar Bahasa Arab dan Inggris kembali bergema di setiap sudut pondok, mulai dari penambahan kosa kata (mufradat/vocabularies) harian hingga keberanian untuk praktik berbicara (muhadatsah/speaking) tanpa takut salah.


Membangun Atmosfer Linguistik
Kegiatan yang berlangsung di waktu mustajab Ba’da Maghrib ini diharapkan menjadi titik balik peningkatan kualitas pendidikan di Pondok Pesantren Manbaul Ulum Cirebon. Masjid Amaliyah sebagai pusat kegiatan spiritual santri menjadi saksi komitmen bersama untuk menghidupkan kembali bi’ah lughawiyah (lingkungan berbahasa). Melalui Tajdidun Niat ini, diharapkan seluruh santri tidak lagi merasa berat untuk berbahasa asing, melainkan menjadikannya sebagai gaya hidup (lifestyle) yang membanggakan. Semangat ini selaras dengan visi pesantren untuk terus beradaptasi dengan zaman tanpa kehilangan jati diri. (Muhammad Afrizal Azhari)
